Awal Ramadhan 2026: Perbedaan Bukan Alasan untuk Berdebat
Jakarta — Menjelang datangnya bulan suci Ramadhan 2026, isu mengenai perbedaan penentuan awal puasa kembali mencuat. Seperti tahun-tahun sebelumnya, metode penetapan awal Ramadhan antara rukyat (pengamatan hilal) dan hisab (perhitungan astronomi) berpotensi menghasilkan tanggal yang berbeda. Namun, perbedaan ini sejatinya tidak perlu menjadi sumber perdebatan.

Mengapa Perbedaan Itu Wajar
• Metode Berbeda: Rukyat dan hisab adalah dua pendekatan yang sama-sama memiliki dasar kuat dalam tradisi Islam.
• Konteks Lokal: Kondisi geografis dan cuaca di berbagai wilayah bisa memengaruhi hasil pengamatan hilal.
• Sejarah Panjang: Perbedaan awal Ramadhan bukan hal baru, melainkan bagian dari dinamika umat Islam sejak dahulu.
Fokus pada Esensi Ramadhan
• Ibadah dan Kesalehan: Ramadhan adalah momentum meningkatkan kualitas ibadah, bukan memperdebatkan perbedaan teknis.
• Persatuan Umat: Menghormati perbedaan justru memperkuat ukhuwah Islamiyah.
• Nilai Spiritual: Esensi Ramadhan terletak pada puasa, doa, dan kepedulian sosial, bukan pada kapan tepatnya ia dimulai.
Sikap Bijak yang Dapat Ditempuh
• Menghormati Otoritas: Mengikuti keputusan lembaga resmi di masing-masing negara atau organisasi keagamaan.
• Menghargai Perbedaan: Tidak menjadikan perbedaan sebagai bahan polemik, melainkan sebagai ruang toleransi.
• Menjaga Kedamaian: Ramadhan seharusnya menjadi bulan penuh ketenangan, bukan ajang perpecahan.
Kesimpulan
Awal Ramadhan 2026 mungkin berbeda antara satu kelompok dengan kelompok lain. Namun, perbedaan itu tidak seharusnya menjadi alasan untuk berdebat. Justru, Ramadhan adalah kesempatan untuk memperkuat persaudaraan, menebar kedamaian, dan meneguhkan makna ibadah.
Tribun Liputan Gudang Informasi dan Berita Terpercaya