BMKG Ungkap Strategi Atasi Karhutla dan Banjir di Sumatera Menjelang Musim Kemarau
Memasuki musim kemarau 2026, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyoroti potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta banjir di sejumlah wilayah Sumatera. Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Dr. Ardhasena Sopaheluwakan, menjelaskan bahwa kondisi iklim tahun ini dipengaruhi oleh peralihan dari La Niña lemah menuju fase netral, dengan kemungkinan mengarah ke El Niño pada paruh kedua tahun. Hal ini meningkatkan risiko kekeringan sekaligus memperbesar ancaman karhutla.

Strategi BMKG
BMKG menyiapkan beberapa langkah antisipasi:
• Modifikasi Cuaca: Penambahan hujan buatan di wilayah rawan seperti Riau untuk menjaga kelembapan tanah dan mengurangi potensi titik api.
• Pemantauan Titik Panas: Intensifikasi pemantauan hotspot di Aceh, Sumatra Utara, Riau, Jambi, dan Sumatra Selatan.
• Koordinasi Lintas Instansi: Bekerja sama dengan Manggala Agni dan pemerintah daerah untuk memperkuat sistem peringatan dini serta kesiapan pemadaman.
• Mitigasi Banjir: Mengingat curah hujan masih tinggi di beberapa daerah, BMKG juga menekankan perlunya kesiapan menghadapi banjir bandang sebelum kemarau benar-benar tiba.
Analisis
• Karhutla: Ancaman utama di Sumatera, terutama di lahan gambut yang mudah terbakar saat kering.
• Banjir: Masih berpotensi terjadi di awal musim kemarau akibat sisa curah hujan tinggi.
• Tantangan: Keterpaduan antara prakiraan iklim, kesiapan teknis, dan koordinasi lapangan menjadi kunci keberhasilan mitigasi.
Kesimpulan
BMKG menegaskan bahwa strategi menghadapi karhutla dan banjir di Sumatera harus dilakukan secara simultan. Dengan kombinasi teknologi modifikasi cuaca, pemantauan intensif, dan koordinasi lintas sektor, diharapkan dampak bencana dapat ditekan menjelang musim kemarau 2026.
Tribun Liputan Gudang Informasi dan Berita Terpercaya