Free Hit Counter
Rupiah tertekan akibat lonjakan harga minyak global
Rupiah tertekan akibat lonjakan harga minyak global-jambi.antaranews.com

Rupiah tertekan akibat lonjakan harga minyak global

Rupiah tertekan akibat lonjakan harga minyak global

Nilai tukar rupiah kembali tertekan hingga kisaran Rp17.600–Rp17.700 per dolar AS, dipicu lonjakan harga minyak dunia dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Kondisi ini menambah beban ekonomi domestik karena berpotensi meningkatkan inflasi dan subsidi energi.

 

Rupiah tertekan akibat lonjakan harga minyak global
Rupiah tertekan akibat lonjakan harga minyak global-jambi.antaranews.com

 Kondisi Terkini Rupiah

  • Rupiah ditutup di Rp17.655–Rp17.706 per dolar AS pada perdagangan pertengahan Mei 2026.
  • Pelemahan mencapai 1,12% dalam sehari, sejalan dengan depresiasi mata uang Asia Tenggara lain seperti ringgit Malaysia dan peso Filipina.
  • Beberapa mata uang Asia lain justru menguat, seperti yuan China dan baht Thailand, menunjukkan tekanan lebih berat pada rupiah.

 Faktor Utama Tekanan

  • Lonjakan harga minyak dunia: Harga minyak mentah Brent menembus US$107 per barel, dipicu gangguan pasokan di Selat Hormuz dan konflik Timur Tengah.
  • Ketegangan geopolitik: Eskalasi konflik AS–Iran dan serangan di Timur Tengah meningkatkan permintaan aset safe haven dolar AS.
  • Kebijakan moneter global: Ekspektasi bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, memperkuat dolar AS dan menekan rupiah.
  • Faktor domestik: Beban subsidi energi meningkat karena asumsi kurs APBN Rp16.500 jauh di bawah realisasi pasar. Potensi tambahan beban subsidi mencapai Rp150 triliun.

 Dampak Ekonomi

  • Inflasi: Lonjakan harga energi berisiko mendorong inflasi lebih tinggi, terutama pada harga kebutuhan pokok.
  • Subsidi energi: Pemerintah menghadapi tekanan fiskal akibat meningkatnya biaya subsidi BBM.
  • Investasi & pasar modal: Investor asing cenderung menarik dana dari pasar Indonesia, memperlemah likuiditas dan memperbesar risiko pelemahan rupiah lebih lanjut.

 Prospek ke Depan

  • Bank Indonesia diperkirakan akan menaikkan suku bunga acuan untuk menstabilkan rupiah.
  • Analis memperingatkan rupiah berpotensi menembus level psikologis Rp18.000 per dolar AS jika ketegangan global tidak mereda.
  • Pemerintah perlu menyiapkan strategi fiskal lebih kuat, termasuk penyesuaian harga BBM bersubsidi, agar tidak menambah beban APBN.
BACA JUGA  Tindakan Netanyahu Memecat Menhan Picu Kemarahan Warga Israel

 Kesimpulan

Rupiah saat ini berada dalam tekanan berat akibat kombinasi lonjakan harga minyak global, ketegangan geopolitik, dan penguatan dolar AS. Dampaknya terasa langsung pada inflasi, subsidi energi, dan stabilitas fiskal. Jika kondisi eksternal tidak segera mereda, rupiah berisiko melemah lebih dalam hingga menembus Rp18.000 per dolar AS.